Aulia Library

koleksi buku dan berita dari media

Tanah Tabu

 

Judul Buku: Tanah Tabu
Pengarang; Anindita S. Thayf
Tebal: 240 hlm; 18 cm
Terbit: Cetakan 1, Mei 2009
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.”

Kalimat itu tercantum di sampul dan halaman lima novel Tanah Tabu, karya Anindita S. Thayf, yang menjadi pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2008. Kalimat itu juga seolah merangkum seluruh isi buku ini, yang bercerita tentang keberanian perempuan dan pilihan untuk bertahan di tengah beratnya kehidupan.  Adat yang dirasa tak berpihak pada kaum perempuan, kemiskinan, dan kerakusan para pendatang atas kekayaan alam tanah Papua  adalah persoalan yang harus terus dihadapi oleh Mabel, Mace atau Lisbeth, dan Leksi.

Mabel adalah ibu mertua Mace, sedangkan Leksi adalah cucu perempuannya yang kritis terhadap banyak hal. Leksi yang diceritakan berwajah manis dan baru masuk SD sering mengajukan pertanyaan yang merepotkan Mabel dan Mace untuk mencari jawabannya. Leksi pula yang menjadi tumpuan harapan Mabel dan Mace supaya kehidupan Leksi lebih baik dari kehidupan mereka berdua. Untuk itu, Leksi harus lebih pintar dari mereka, supaya tak mudah tergilas ganasnya kenyataan.

Lantas kemanakah para lelaki? Kemanakah suami Mabel dan anak lelakinya yang juga suami Mace? Mereka pergi, tak peduli nasib keluarganya.

Mabel, si pemberani yang tak gentar mengkritik tetangga-tetangganya yang dianggap “menjual” tanah tabu atau tanah keramat Papua, akhirnya diambil paksa oleh beberapa orang bersenjata karena dituduh membuat noken, tas rajut khas Papua yang dibawa dengan cara digantung di atas kepala, dengan warna bendera musuh. Mabel yang buta warna tak tahu bahwa orang yang memesan, sekaligus menentukan warna noken-noken itu, memang berniat menjebaknya. Dan Mabel masuk ke dalam perangkapnya.

“Jangan menangis, Lisbeth! Jadilah perempuan yang kuat untukku. Dan Leksi! Berjanjilah untuk rajin bersekolah, Nak. Jangan jadi buta warna seperti Mabel-mu ini hingga kau bisa ditipu. Jangan pula jadi buta hati seperti mereka, yang tega menipu dan menyakiti kita. Jaga diri kalian. Aku pasti pulang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 3, 2010 by in Anindita S. Thayf.
%d bloggers like this: