Aulia Library

koleksi buku dan berita dari media

Membaca Sapardi

Judul Buku      :           Membaca Sapardi

Penulis              :           Riris K. Toha-Sarumpaet & Melani Budianta (Editor)

Tebal                 :           306 hlm

Terbit                :           Oktober 2010

Penerbit           :           Yayasan Pustaka Obor Indonesia, bekerja sama dengan HISKI

Bagi saya, membaca karya Sapardi Djoko Damono (SDD) tidak pernah mudah. Pertama, dulu buku-bukunya susah didapat. Kedua, walaupun kata-kata yang digunakan dalam karyanya terbilang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari, kok tetap saja membuat saya sering bertanya dalam hati, “Puisi ini maksudnya apa ya?”, “Penafsiran saya atas puisi ini benar nggak ya?”. Meskipun berulang kali SDD mengatakan tafsir puisi berada di tangan pembacanya, tetap saja saya penasaran dengan makna puisi-puisinya dan ingin tahu pendapat orang lain tentang karya-karya SDD.

Untuk itu saya harus berterimakasih kepada Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang telah menerbitkan buku Membaca Sapardi. Membaca Sapardi adalah judul pertama dari Seri Kajian HISKI yang secara berkala mengumpulkan kajian terkini dan menyeluruh tentang sastra Indonesia dengan cara membahas karya satu orang penulis Indonesia dari berbagai pendekatan dan disebarkan kepada masyarakat. Mengutip dari halaman Ucapan Terima Kasih dalam buku ini, Membaca Sapardi diterbitkan untuk menyambut 70 tahun SDD. Barangkali semacam kado ulang tahun.

17 tulisan dalam buku ini tidak hanya mengkaji karya SDD yang berupa puisi namun juga cerita pendek dan terjemahan, mulai dari buku DukaMu Abadi (1969) hingga Kolam (2009). Nirwan Dewanto, Toeti Heraty, Bakdi Soemanto, Maman S. Mahayana, Hasan Aspahani, dan Seno Gumira Ajidarma adalah beberapa dari banyak penulis yang memberikan tulisannya dalam buku ini. Rasanya menyenangkan membaca tulisan mereka karena mereka menunjukkan bahwa karya-karya SDD memiliki banyak penafsiran yang tidak menutup kemungkinan bagi satu penafsiran untuk memperkaya penafsiran lainnya.

Contohnya adalah puisi Tuan. Begini bunyi puisi itu :

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar

saya sedang keluar.

Toeti Heraty menafsirkan Tuhan yang datang bertamu itu “ibarat ancaman penagih hutang atau pejabat pajak yang kita hindari” (hal 38). Sedangkan Okke Kusuma Sumantri Zaimar memandang bahwa puisi ini menunjukkan sikap manusia yang “selalu “menyuruh” Tuhan menunggu”. Contohnya, manusia sering mengulur waktu untuk melaksanakan sembahyang. Dengan demikian, kalimat “saya sedang keluar” bisa bermakna “saya tidak sedang melakukan perintah-Mu” (hal 127).

Maman S. Mahayana punya pendapat yang berbeda pula. Menurutnya, puisi ini menunjukkan paradoks karena si aku lirik ingin berjumpa sekaligus ingin menghindar dari Tuhan (hal 158). Bisa saja saat itu si aku lirik merasa sudah hampir mati sehingga dia ingin bertemu Tuhan supaya Tuhan mau menolongnya, namun dia juga ingin menghindar dari Tuhan yang mungkin akan mencabut nyawanya. Tulisan Maman S. Mahayana dalam buku ini memang menekankan pada paradoks yang muncul dalam puisi SDD. Selain membahas paradoks dalam puisi Tuan, Maman S. Mahayana juga menyoroti paradoks dalam puisi Hujan Bulan Juni (hal 160).

Kiprah SDD dalam penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia juga turut dibahas dalam buku ini yang diwakili oleh tulisan Benny H. Hoed berjudul Membaca Lelaki Tua dan Laut, serta tulisan Harry Aveling berjudul Parateks Pada Terjemahan Novel Without A Name. Benny H. Hoed menyebutkan dalam tulisannya bahwa SDD selalu berusaha agar terjemahannya merupakan karya Indonesia bukan sekedar karya asing dalam bahasa Indonesia (hal 220). Mungkin inilah yang membuat terjemahan SDD menjadi berbeda dari terjemahan lainnya. Pada tahun 1999 SDD bahkan dikukuhkan sebagai penerjemah terbaik untuk novel John Steinbeck (The Grapes of Wrath) (hal 292).

Untuk ukuran buku dengan tebal 306 halaman, buku ini cukup ringan untuk dibawa kemana-mana. Ia jadi mudah untuk saya nikmati bahkan ketika saya berdesakan di dalam KRL jurusan Depok-Jakarta yang tak pernah sepi penumpang itu. Menurut saya, kelebihan ini sebaiknya dipertahankan dalam seri kajian HISKI mendatang yang berjudul Membaca Abdoel Moeis.

Selain membuat saya mendapat pemahaman yang kaya atas karya-karya SDD, buku Membaca Sapardi juga membuat saya merasakan semangat berkarya SDD yang tak mau berhenti. Saya rasa apresiasi perlu diberikan kepada SDD yang sejak 2009 mau bersusah payah menerbitkan kembali buku-bukunya. Tak cuma itu, SDD juga sedang menyiapkan buku ketiga dari novel triloginya, kelanjutan dari buku Pengarang Telah Mati dan Pengarang Belum Mati. Dengan semua ingatan pada produktivitas SDD itu, saya jadi bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sudah saya hasilkan sampai usia 27 tahun ini?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2011 by in Melani Budianta.
%d bloggers like this: