Aulia Library

koleksi buku dan berita dari media

Sutan Takdir Alisjahbana Dalam Kenangan

Judul            : Sutan Takdir Alisjahbana Dalam Kenangan
Penyusun   : Abuhasan Asy’ari
Tebal            : 252 hlm
Terbit           : Cetakan pertama, 2008
Penerbit      : Dian Rakyat

Catatan :

Buku ini dijual.
Buku bekas. Kondisi bagus. Bersampul plastik. Tidak ada lipatan. Tidak ada coretan.
Rp 40.000. Harga belum termasuk ongkos kirim.

Pemesanan : kirim email ke rumahbelanja.aulia@gmail.com atau info@rumahbelanjaaulia.com

Berkenalan dengan Sutan Takdir Alisjahbana

Jangan tertipu, tentu saja saya tak berkenalan secara langsung dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Rentang usia kami begitu jauhnya sehingga hanya buku atau informasi dari internet yang bisa menjembataninya.

Apa yang saya tahu tentang STA hanyalah bahwa dia penulis novel Layar Terkembang, novel yang sering hadir dalam pertanyaan tes Catur Wulan jaman SMP dan SMA. Keingintahuan saya tentang STA muncul ketika dua tahun lalu saya melihat buku-buku karya/tentang STA dalam sebuah pameran buku di Jakarta. Berhubung saya jarang melihat buku-buku itu di toko buku, saya tak merasa sayang memborongnya. Benar, pameran buku memang cara ampuh membuat kita kalap belanja dalam sesaat.

Sejak saat itu, buku-buku itu belum pernah benar-benar saya baca. Saya lebih sering membuka-buka saja dan membacanya sekilas. Akhirnya baru kemarin saya punya waktu untuk membaca salah satunya. Buku itu berjudul “Sutan Takdir Alisjahbana Dalam Kenangan”, disusun oleh Abuhasan Asy’ari, dan diterbitkan oleh penerbit Dian Rakyat.

Sesuai judulnya, buku ini adalah kumpulan tulisan dari 21 orang yang bercerita tentang berbagai kenangan mereka atas STA. Kenangan itu amat beragam, mulai tentang karya-karya STA, pekerjaannya terkait dengan pengembangan Bahasa Indonesia, polemik kebudayaan, hingga tentang agamanya.  21 orang itu diantaranya adalah Achdiat Karta Mihardja, A. Teeuw, Umar Kayam, Frans Magnis Suseno, dan Arief Budiman.

Dari semua tulisan di buku ini, ada dua tulisan yang menurut saya paling enak dibaca dan mudah dipahami, yaitu tulisan berjudul “Sang Rajawali Telah Membubung Tinggi” karya Budiarto Danujaya dan “In Memoriam Sutan Takdir Alisjahbana” karya A. Teeuw. Pemahaman saya yang terbatas membuat saya tak mudah memahami tulisan-tulisan lainnya. Entah berapa kali dahi saya berkerut dibuatnya. Tapi jangan khawatir, terlalu berat buat saya belum tentu terlalu berat untuk Anda.

Dua tulisan yang saya sebutkan di atas membuat saya sedikit banyak jadi tahu tentang STA. Karya-karyanya begitu banyak, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Jumlah bukunya lebih dari 40, separuhnya berupa novel, kumpulan puisi, dan esai. Mengutip tulisan Budiarto Danujaya, “daftar judul semua artikel dan bukunya lebih dari 23 halaman diketik rapat.” (halaman 243). Selain Layar Terkembang (1936), novel lain karya STA adalah Anak Perawan di Sarang Penyamun (1936), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) , Tak Putus Dirundung Malang (1929), Grotta Azzurra (1970), dan Kalah dan Menang (1978). Sedangkan kumpulan puisinya antara lain Tebaran Mega (1935) dan Lagu Pemacu Ombak (1978)

Selain sebagai pendiri gerakan sastra Pujangga Baru, STA juga dikenal sebagai ahli bahasa. Karyanya yang berjudul Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia terbit dalam dua jilid pada tahun 1949 dan merupakan usaha pertama dalam melakukan sistematika tatabahasa Indonesia (halaman 247). Tidak hanya itu, STA juga mendirikan sebuah universitas (Universitas Nasional) , tiga sekolah menengah, sebuah balai kesenian, dan sebuah penerbitan.

Menurut Budiarto Danujaya, dari semua hal tentang STA, yang paling banyak diingat adalah kontroversi yang mengikuti gagasan-gagasan STA. Begitu kontroversialnnya STA hingga Budiarto Danujaya menulis :

Kalau ada orang yang di sepanjang Indonesia merdeka melahirkan banyak kutipan menawan yang sangat memudahkan kerja para wartawan mencari judul dan kalimat utama beritanya, dialah salah satunya.

(halaman 245)

Dari tulisan-tulisan di buku STA Dalam Kenangan, nampaknya STA memang manusia yang kaya warna. Setelah membaca buku ini, saya akan coba baca buku-buku karya STA. Semoga saja saya masih bisa membaca di malam hari karena hampir tak mungkin lagi untuk membaca buku di dalam kereta Commuterline, kereta yang walaupun tak manusiawi tapi tetap harus saya naiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 24, 2012 by in Sutan Takdir Alisjahbana.
%d bloggers like this: